(Oleh: Ibrahim Yakub, S.E., M.E / Pengamat Kebijakan Publik)
Ternate - DjongNusantaraNews - Rabu 13 Mei pukul 15.32, dengan suhu yang sedikit panas, memaksa keinginan untuk membeli Tiknoll Reserve, tempat ngopi yang populer di kalangan anak muda Kota Ternate. Caffe yang bukan saja menyegarkan tenggorokan, tapi sangat memancing adrenalin pikiran untuk meramu harapan meracik ide menjadi sebuah gagasan membangun pijar-pijar masa depan Kota.
Namun, yang berbeda di reserve Tiknoll kali ini bukan bercerita mengenai sampah, banjir dan ketimpangan Kota Ternate sebagai icon Kota Rempah. Tapi, topik hangat pembicaraannya tentang salah satu Kota Masa depan untuk energi ekonomi, perilaku sosial, dan identitas budaya yang nanti menjadi lokus anak muda untuk berkreasi serta inovasi di Provinsi Maluku Utara, sebutannya Kota Sofifi.
Kota yang lagi difokuskan untuk pembangunan gedung pemerintahan,jalan dibuka, dan mobilisasi manusia untuk dipindahkan dengan tujuan meramaikan Kota dan melancarkan siklus ekonomi untuk stabilitas pertumbuhan ekonomi. Secara kasatmata sampai hari ini upaya itu terus dilakukan tapi lagi-lagi Jiwa Kota sofifi belum sepenuhnya hadir terasa diruang publik.
Sofifi sebagai ibu kota Maluku Utara. Sofifi bukan sekadar ruang administratif, melainkan proyek masa depan tentang bagaimana kota kepulauan dirancang untuk manusia, terutama generasi mudanya. Pertanyaan besarnya dalam benak kita ialah bukan lagi “Bagaimana membangun Sofifi?”, tetapi “Untuk siapa Sofifi dibangun?”. Sebab sejarah banyak kota menunjukkan bahwa kota yang gagal memberi ruang hidup bagi anak muda akan berubah menjadi kota transit maksudnya, ramai pada siang hari, tetapi kehilangan denyut sosial pada malam hari. Kota semacam itu hanya menjadi tempat bekerja, bukan tempat bertumbuh.
Padahal, masa depan kota-kota modern hari ini ditentukan oleh kreativitas, mobilitas gagasan, dan kualitas sumber daya manusianya. Teori _Creative Class_ dari Richard Florida menjelaskan bahwa kota akan berkembang bukan hanya karena infrastruktur fisik, tetapi karena kemampuannya menarik dan mempertahankan kaum muda kreatif, inovator, komunitas seni, pelaku teknologi, hingga wirausaha sosial. Kota yang ramah terhadap kreativitas akan lebih cepat tumbuh dibanding kota yang hanya bertumpu pada birokrasi.
Dalam konteks itu, Sofifi sebenarnya memiliki modal penting. Maluku Utara sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Data statistik daerah menunjukkan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pernah mencapai 21,57 persen pada 2023, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis melahirkan kualitas kota yang baik. Banyak daerah kaya sumber daya justru gagal menciptakan ruang hidup yang nyaman bagi masyarakatnya.
Tantangan utama Sofifi bukan sekadar pembangunan jalan atau kantor pemerintahan, melainkan membangun identitas kota kepulauan yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan. Kota ini membutuhkan ruang publik, pusat kreativitas, kawasan pendidikan, ekosistem digital, transportasi antarpulau yang terintegrasi, hingga pusat ekonomi anak muda. Tanpa itu, Sofifi hanya akan menjadi simbol administratif yang kehilangan ruh sosialnya.
Belajar dari Nusantara, pembangunan ibu kota masa depan tidak lagi hanya bicara gedung pemerintahan, tetapi juga konsep kota hijau, kota cerdas, dan kota manusia. Diskursus publik mengenai pembangunan Nusantara banyak menyoroti pentingnya transportasi publik, ruang pejalan kaki, dan tata ruang berbasis komunitas. Artinya, kota modern hari ini dibangun dengan pendekatan keberlanjutan dan kualitas hidup, bukan sekadar monumentalitas.
Sofifi juga dapat belajar dari kota-kota kepulauan dunia seperti Reykjavík di Islandia atau Honolulu di Hawaii yang menjadikan identitas maritim sebagai kekuatan budaya dan ekonomi. Kota kepulauan tidak harus meniru Jakarta. Justru kekuatannya ada pada karakter laut, konektivitas pulau, ekowisata, dan budaya lokal yang khas. Sofifi memiliki peluang menjadi model _“Waterfront Archipelagic City”_ atau kota pesisir kepulauan yang modern tetapi tetap dekat dengan alam dan tradisi.
Di sisi lain, peran anak muda menjadi sangat penting. Data kepemudaan menunjukkan jumlah pemuda usia 16–30 tahun di Maluku Utara mencapai ratusan ribu jiwa dan menjadi kekuatan demografi strategis. Bahkan data kewirausahaan pemuda 2025 menunjukkan terdapat sekitar 184 ribu pemuda usia 16–30 tahun yang bergerak dalam aktivitas usaha di Maluku Utara. Ini berarti Maluku Utara memiliki energi sosial yang besar untuk mendorong ekonomi kreatif, UMKM digital, industri budaya, hingga inovasi teknologi lokal.
Namun pertanyaannya, apakah Sofifi sudah memberi ruang bagi mereka?
Kota masa depan tidak cukup hanya menyediakan lapangan pekerjaan. Ia harus menghadirkan harapan. Anak muda membutuhkan ruang berekspresi, taman kota, pusat literasi, akses internet yang baik, _coworking space,_ festival budaya, hingga ruang dialog publik yang sehat. Dalam teori _Right to The City_ dari Henri Lefebvre, kota ideal adalah kota yang memberi hak kepada masyarakat untuk ikut menentukan arah perkembangan kotanya, bukan hanya menjadi penonton pembangunan.
Karena itu, Sofifi perlu dirancang dengan pendekatan partisipatif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kampus, komunitas kreatif, pelaku UMKM, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat adat harus dilibatkan dalam membayangkan wajah Sofifi ke depan. Kota yang baik lahir dari percakapan kolektif, bukan sekadar proyek teknokratis.
Selain itu, tantangan geografis kepulauan harus dijawab dengan inovasi. Sofifi memerlukan sistem transportasi laut yang efisien, digitalisasi layanan publik, dan pengembangan ekonomi berbasis konektivitas antarpulau. Teori urbanisasi modern menunjukkan bahwa kota masa depan bukan lagi soal luas wilayah, tetapi kemampuan membangun jaringan _(network city)_. Dalam konteks kepulauan, Sofifi harus menjadi simpul yang menghubungkan Ternate, Tidore, Halmahera, hingga pulau-pulau kecil lainnya secara ekonomi dan sosial.
Jika tidak dirancang dengan visi jangka panjang, Sofifi berisiko mengalami paradoks pembangunan menjadi ibu kota secara administratif, tetapi tertinggal secara sosial dan budaya. Sebaliknya, jika dikelola dengan visi masa depan, Sofifi dapat menjadi simbol baru Indonesia Timur, kota kepulauan yang tumbuh dari laut, digerakkan oleh anak muda, dan dibangun dengan harapan kolektif masyarakatnya.
Pada akhirnya, merancang Sofifi untuk esok hari bukan hanya tentang membangun kota. Ini tentang membangun rasa memiliki. Sebab kota yang bertahan lama bukanlah kota dengan gedung paling tinggi, melainkan kota yang mampu membuat generasi mudanya percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan di sana.
Redaksi : Galang
.jpg)