Morotai - DjongNusantaraNews - Sebuah catatan otokritik untuk kita semua.
Dalam setiap lintasan sejarah, selalu ada satu fase ketika suatu masyarakat berdiri di persimpangan: antara kejernihan berpikir dan kabut sentimen. Morotai hari ini, dalam refleksi 17 tahun sebagai sebuah kabupaten, tampak sedang berdiri di titik itu, sebuah titik yang belum mencapai klimaks kesadaran kolektifnya. Diskusi-diskusi publik yang berlangsung, nyaris, belum menyentuh kedalaman substansi; ia masih berputar di permukaan emosi, seperti percakapan yang kehilangan arah sebelum mencapai puncak makna.
Padahal, sebagaimana pernah diisyaratkan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam gagasan besarnya tentang kontrak sosial, sebuah masyarakat hanya dapat berdiri kokoh jika warganya berani menanggalkan kepentingan sempit dan berbicara jujur atas dasar nalar. Kejujuran intelektual itulah fondasi republik, bukan sekadar kesepakatan administratif. Ikut-ikutan menurut orang bilang dan seterusnya hingga tembus dipikiran kekuasaan. Tanpa itu, diskusi akan berubah menjadi arena saling menjatuhkan, bukan ruang menemukan kebenaran.
Morotai, dalam metafora yang terasa getir, ibarat sebuah kapal yang tengah berlayar tanpa mesin. Ia bergerak, tetapi tidak dengan kesadaran arah. Lebih parah lagi, para penumpangnya sibuk berkelahi di atas geladak, sementara lambung kapal perlahan bocor. Kebocoran itu bukan sekadar simbolik, melainkan nyata: beban utang ratusan miliar rupiah yang menggantung sebagai ancaman struktural. Pertanyaan mendasarnya bukan sekadar bagaimana membayar utang itu, tetapi bagaimana cara berpikir yang melahirkan kondisi tersebut dapat diperbaiki.
Di sinilah problem utama anak muda Morotai menemukan relevansinya. Sebab masa depan suatu daerah, tentu, tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau proyek infrastruktur, melainkan oleh kualitas nalar generasinya. Namun yang terjadi, nyaris, sebagian anak muda kita masih terjebak dalam pola pikir imitasi: mengikuti “orang bilang” tanpa keberanian untuk menguji, meragukan dan memverifikasi. Kebenaran tidak lagi dicari, melainkan diwariskan secara mentah sebagai opini.
Fenomena ini bertentangan dengan semangat yang pernah digelorakan oleh Immanuel Kant dalam karya monumentalnya Critique of Pure Reason. Kant menekankan bahwa manusia harus keluar dari “ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri” (self-incurred immaturity), yaitu ketidakmampuan menggunakan akal tanpa bimbingan orang lain. Dalam bahasa yang lebih sederhana: beranilah berpikir sendiri. Sebab kejernihan pikiran bukanlah anugerah, melainkan hasil dari disiplin intelektual.
Sayangnya, ruang publik kita hari ini justru dipenuhi oleh sentimen, kecenderungan untuk mencurigai, membenci dan menjatuhkan. Kritik tidak lagi diarahkan untuk memperbaiki, tetapi untuk mengalahkan. Dalam situasi seperti ini, rasionalitas kehilangan tempatnya dan diskursus publik berubah menjadi medan konflik yang melelahkan.
Padahal sejarah telah memberikan pelajaran yang terang. Nelson Mandela, dengan segala pengalaman pahitnya, pernah menegaskan bahwa tidak ada bangsa yang dibangun di atas kebencian. Perdamaian bukan sekadar pilihan moral, melainkan syarat rasional bagi pembangunan. Tanpa itu, energi kolektif akan habis untuk konflik, bukan untuk kemajuan.
Karena itu, refleksi 17 tahun Morotai mestinya tidak berhenti pada seremoni atau kalkulasi administratif. Ia harus menjadi momentum untuk, meminjam istilah teknologis, “menginstal ulang” cara berpikir kita. Kita perlu membangun kembali fondasi epistemologis masyarakat: bagaimana kita memahami kebenaran, bagaimana kita berdiskusi dan bagaimana kita mengambil keputusan.
Anak muda Morotai, sebagai generasi yang akan mewarisi kapal ini, dituntut untuk melampaui pola pikir lama. Mereka harus berani mengatakan benar sebagai benar, dan salah sebagai salah, bukan karena tekanan kelompok, tetapi karena pertimbangan rasional. Ini bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan mendesak.
Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh seberapa banyak jalan atau gedung yang dibangun, atau seberapa kaya laut dan daratan yang dimiliki. Semua itu, tentu, hanyalah aspek teknis. Yang paling menentukan adalah cara berpikir masyarakatnya. Jika pikiran jernih, maka kebijakan akan tepat; jika nalar sehat, maka konflik akan mereda; jika kejujuran intelektual dijunjung, maka masa depan akan menemukan arahnya.
Morotai tidak kekurangan potensi. Ia hanya kekurangan kejernihan pikiran. Dan selama kejernihan itu belum ditemukan, kapal ini akan terus berlayar tanpa arah, bergerak, tetapi tidak pernah sampai pada keadilan dan kesejahteraan.
Penulis : Arafik Arahman
Redaksi : Ramdani
