Tidore Masa Depan: Menjemput Pemerataan di Tengah Keterbatasan

Sebarkan:

Oleh : Ibrahim Yakub, S.E., M.E (Pegiat Kebijakan Publik)


Pagi itu, suasana terasa sejuk,matahari bergerak naik perlahan di atas laut yang menghadap Kota Tidore Kepulauan. Perahu-perahu kecil bergerak lebih cepat dari biasanya. Di dermaga sederhana yang dulu sepi, kini aktivitas terasa hidup ikan segar ditimbang, paket logistik diturunkan, dan sinyal internet desa yang stabil membuat para nelayan tak lagi sekadar menebak harga denyut ekonomi terus memompa roda ekonomi kota.

Di sudut dermaga, dengan pandangan yang sedikit kabur ada seorang anak muda membuka aplikasi di telepon genggamnya. Ia memeriksa pesanan berisi pala kering dari luar daerah, memastikan pengiriman siang itu berjalan tepat waktu dan sasaran ke Kota Ternate. Ia tersenyum kecil. Dalam benaknya "Dulu, semua ini terasa jauh", katanya pelan, seolah berbicara pada masa lalu.

Sepuluh tahun sebelumnya, cerita ini belum ada bahkan tidak menduga. Yang ada justru kegelisahan. Pemerintah daerah dihadapkan pada tekanan fiskal, tuntutan efisiensi, dan pilihan-pilihan yang tidak pernah sederhana. Pikiran kepala daerah Memangkas anggaran berarti memperlambat pembangunan. Tetapi membiarkan belanja berjalan seperti biasa justru memperdalam ketimpangan.

Saat itu, pembangunan terasa berat sebelah. Pusat kota tumbuh, tetapi pinggiran tertinggal. Tidore sebagai pusat berdenyut, sementara Oba dan desa-desa di sekitarnya berjalan lebih pelan tertinggal oleh jarak, biaya logistik, dan keterbatasan layanan dasar. Jalan belum menyambung, air bersih belum merata, dan pelayanan kesehatan masih menjadi perjalanan panjang, bukan hak bagi yang dekat.

Banyak yang mengira masalahnya sederhana itu, anggaran kurang. Tetapi waktu membuktikan, masalahnya bukan sekadar “Berapa Banyak”, melainkan “Dipakai Untuk Apa”.

Dan dari situlah perubahan dimulai. Keputusan pertama yang diambil waktu itu tidak populer. Pemerintah memangkas belanja seremonial, perjalanan dinas yang berulang, dan program-program yang lebih banyak terlihat daripada terasa. Kritik datang, bahkan dari dalam birokrasi sendiri. Tetapi langkah itu membuka kotak pandora tentang ruang anggaran yang selama ini tersebar tanpa arah mulai dikumpulkan untuk satu tujuan membangun yang paling dibutuhkan. Satu per satu, jalan penghubung desa diperbaiki. Tidak megah, tetapi cukup untuk membuat roda ekonomi berputar. Akses air bersih diperluas. Internet masuk desa, bukan sebagai simbol modernitas, tetapi sebagai alat bertahan dan berkembang.

Di wilayah kepulauan pemahaman mengenai satu akses bisa mengubah segalanya sangatlah penting, bisa menjadi semangat pembangunan yang adil. Dan mereka mulai melihatnya terjadi. Namun perubahan terbesar bukan pada fisik, melainkan pada cara berpikir. Pemerataan tidak lagi dimaknai sebagai “semua dapat bagian yang sama”. Sebaliknya, pemerintah mulai berani mengatakan yang tertinggal harus didahulukan. Wilayah pusat diperbaiki kualitasnya, tetapi wilayah penyangga dan terluar diberi perhatian lebih besar bukan karena kasihan, melainkan karena itu satu-satunya cara untuk menciptakan keadilan.

Keputusan ini tidak mudah. Ia menuntut keberanian politik. Tetapi tanpa itu, pemerataan hanya akan menjadi slogan.

Di sisi lain, ekonomi lokal perlahan bangkit dari cara lama. Nelayan tidak lagi menjual hasil tangkapan tanpa kepastian harga tapi keharusan mengetahui harga baru menjual. Petani tidak lagi sekadar memanen tanpa akses pasar, namun memastikan ketersediaan pasar lebih diutamakan. Pemerintah tidak membangun industri besar, tetapi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih dekat dengan rantai ekonomi desa.

Hilirisasi kecil-kecilan mulai tumbuh. Pala, cengkeh, dan hasil laut tidak lagi keluar sebagai bahan mentah semata. Ada nilai tambah, ada jaringan distribusi, dan yang paling penting ada kepastian pasar. Konektivitas dengan Ternate menjadi urat nadi baru yang menghidupkan pergerakan barang dan jasa.

Pembangunan, untuk pertama kalinya, terasa bukan hanya di jalan dan bangunan, tetapi di dapur rumah tangga terlihat kepulan asap terus berlangsung. Birokrasi pun ikut berubah, meski tidak secepat yang diharapkan. Sistem digital mulai menggantikan proses manual. Perencanaan anggaran lebih transparan, pelayanan publik lebih cepat, dan ruang kebocoran semakin sempit. Efisiensi akhirnya menemukan maknanya yang paling nyata yakni bukan sekadar penghematan, tetapi pengelolaan yang cerdas.

Namun, perjalanan ini tidak pernah benar-benar mulus. Ada masa ketika efisiensi hampir kembali disalahartikan sebagai sekadar pemangkasan. Ada tekanan politik yang ingin menarik kembali arah pembangunan ke pola lama proyek besar, cepat terlihat, tetapi dangkal dampaknya.

  • Di titik itulah kepemimpinan diuji.

Karena pada akhirnya, pemerataan bukan soal teknokrasi semata. Ia adalah pilihan politik. Pilihan untuk berpihak. Kini, di tahun Harapan akan, masa depan bukan lagi sebuah mimpi tapi kenyataan yang benar-benar terjadi, perubahan itu belum sempurna. Tetapi ia nyata. Ketimpangan tidak hilang sepenuhnya, namun jaraknya mengecil. Akses tidak lagi menjadi kemewahan, tetapi perlahan menjadi standar. Dan yang paling penting, masyarakat mulai percaya bahwa pembangunan bukan sesuatu yang jauh dari mereka.

Di dermaga itu, anak muda tadi cepat-cepat menutup aplikasinya. Perahunya siap berangkat. Di belakangnya, jalan desa yang dulu berlumpur kini cukup kuat dilalui kendaraan. Di depannya, pasar yang dulu terasa jauh kini bisa dijangkau dalam hitungan jam. Ia tidak sedang memikirkan teori pembangunan. Ia hanya menjalani hidup yang kini sedikit lebih mudah. Barangkali, di situlah makna sesungguhnya dari pemerataan. Bukan pada angka-angka di laporan, bukan pada proyek-proyek yang diresmikan dengan meriah, tetapi pada perubahan kecil yang dirasakan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semua itu bermula dari satu pertanyaan sederhana yang dulu dijawab dengan serius, bukan “berapa besar anggaran yang dimiliki”, tetapi “seberapa cerdas anggaran itu digunakan”. Efisiensi yang berkeadilan akhirnya bukan sekadar konsep, melainkan jalan yang dipilih. Dan di jalan itulah, masa depan Tidore sedang ditulis pelan, tetapi bergerak menuju pasti.


Redaksi : Galang

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini